Not a business plan. A side-sleeper problem that had to be solved.
Pillowblox lahir dari pengalaman saya sendiri: kehilangan setengah paru-paru, hanya dapat tidur di satu sisi, dan tidak menemukan bantal yang benar-benar memberi support sepanjang malam.
Dwi Christanti · Founder & Hardcore Side Sleeper
Saya memulai dari industri bedding.
Pada 2017, saya bekerja sebagai Product Manager di sebuah perusahaan bedding internasional. Fokus saya adalah research and development untuk bantal baru: memahami material, menguji bentuk, dan mencari cara agar produk tidur terasa lebih nyaman.
Saat itu saya tidak pernah membayangkan bahwa pengetahuan tersebut suatu hari akan saya gunakan untuk menyelesaikan masalah tidur saya sendiri.
Professional life before the medical crisis
Suatu hari Minggu setelah Chinese New Year, saya tiba-tiba batuk darah.
Hari itu cerah dan terasa biasa. Lalu, tanpa peringatan, saya mulai batuk darah. Saya segera dibawa ke rumah sakit, kehilangan kesadaran, dan berada di ICU selama satu bulan. Total, saya menjalani perawatan sekitar tiga bulan.
Di tengah masa tersebut, ada satu pengalaman yang masih sangat jelas dalam ingatan saya. Saya merasa seolah sudah meninggal dan bermimpi dipandu melewati beberapa tempat oleh sosok penjaga yang memberikan kata-kata menenangkan.
Untuk menyelamatkan hidup saya, setengah bagian paru-paru saya diangkat.
Saya memahami bahwa keputusan medis tersebut dibuat dalam situasi darurat. Namun, karena tindakan itu dilakukan tanpa persetujuan saya, secara emosional saya merasa tubuh saya telah dilanggar. Perasaan itu tidak mudah dijelaskan dan tidak hilang begitu saja setelah saya keluar dari rumah sakit.
Sejak saat itu, saya hidup dengan setengah paru-paru. Saya memutuskan berhenti bekerja agar tubuh saya mendapatkan waktu istirahat yang benar-benar dibutuhkan.
Bernapas, bergerak, dan tidur tidak lagi terasa sama.
Hidup dengan setengah paru-paru membawa konsekuensi besar: napas menjadi lebih pendek, stamina menurun, kekuatan fisik berkurang, dan saya lebih cepat lelah. Masalah yang paling terasa setiap hari adalah tidur.
Saya hanya dapat tidur di sisi kiri. Menghabiskan delapan jam dalam satu posisi memunculkan hampir semua masalah side sleeper yang umum: frozen shoulder, tekanan pada bahu, kepala dan tulang belakang yang tidak sejajar, leher kaku, serta sesekali kesulitan bernapas.
Recovery changed the way I slept every night
Saya mencoba banyak bantal, termasuk produk dari perusahaan tempat saya pernah bekerja.
Tidak ada yang benar-benar menyelesaikan masalahnya. Bantal yang terlalu rendah membuat kepala turun ke arah kasur. Bantal yang terlalu tinggi mendorong leher ke atas. Bantal yang terasa nyaman pada awal malam sering berubah bentuk setelah digunakan beberapa jam.
Saya menyadari bahwa masalahnya bukan sekadar memilih material yang lebih mahal atau bantal yang lebih empuk. Side sleeper membutuhkan bentuk yang mengisi shoulder gap dan support yang tetap stabil sepanjang malam.
The design question became: how do we fill the shoulder gap consistently?
Saya kembali melakukan research, kali ini untuk tubuh saya sendiri.
Bersama pacar saya saat itu, yang sekarang menjadi suami saya, kami bereksperimen dengan hampir setiap bagian desain: tinggi, bentuk, density, firmness, material, dan bagaimana bantal mempertahankan support ketika dipakai tidur menyamping.
Setelah banyak percobaan, kami sampai pada bentuk block yang bekerja untuk saya. Bantal ini mengisi jarak antara kepala dan kasur tanpa mengandalkan loose fill yang mudah berpindah. Dari situlah Pillowblox lahir.
Pillowblox Original · built from a real side-sleeper need
Better sleep should help us become better versions of ourselves.
Hari ini, Pillowblox membantu side sleepers yang menghadapi tantangan serupa. Harapan saya sederhana: melalui tidur yang lebih baik, kita dapat menjadi orang tua, pemimpin, pasangan, dan anak yang lebih hadir dalam kehidupan sehari-hari.
Welcome to the side-sleepers’ family,
Dwi Christanti
Founder & Hardcore Side Sleeper